Tuesday, 30 April 2013

Diabetes Mellitus (DM), Si Manis yang Pahit


Kencing manis memang cukup sering dijadikan bahan pembicaraan, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Berbagai gejala sering dihubung-hubungkan dengan penyakit tersebut, mulai dari rasa lemas, cepat lelah sampai gatal-gatal di kulit. Tapi, apa sih sebenarnya penyakit kencing manis itu?

Penyakit kencing manis adalah penyakit yang ditandai oleh kadar gula darah yang tinggi melebihi batas normal. Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya kadar insulin dalam darah, atau karena tubuh tidak dapat memakai insulin dengan baik. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh tubuh dan mempunyai fungsi penting dalam metabolisme glukosa.

Sel memerlukan insulin agar gula yang ada di dalam darah dapat masuk ke dalam sel dan dipakai sebagai sumber energi. Bila jumlah insulin berkurang, tentu saja gula tidak dapat diserap ke dalam sel dan tetap beredar di dalam darah. Akibatnya kadar gula darah menjadi tinggi. Penderita yang mengalami keadaan ini disebut sebagai penderita DM type I.

Ada keadaan lain dimana jumlah insulin sebenarnya cukup, atau berkurang sedikit, tapi sel-sel tubuh tidak dapat memanfaatkannya secara baik. Keadaan ini disebut resistensi insulin. Penderita yang mengalami resistensi insulin dan atau defisiensi insulin relatif disebut sebagai penderita DM type II.

Selain kedua tipe tersebut, sesungguhnya masih ada tipe-tipe lain seperti diabetes gestasional (diabetes pada kehamilan). Walaupun berbeda-beda tipe, para penderita ini memiliki kesamaan, yaitu kadar gula yang tinggi dalam darah. Dari semua tipe DM yang ada, DM tipe II memiliki jumlah penderita terbanyak.

Ada beberapa keluhan yang sangat dikenali sejak jaman dahulu kala dan dianggap sebagai keluhan yang khas pada kencing manis, yaitu banyak kencing (poliuria), banyak minum (polidipsia), banyak makan (polifagia) dan berat badan yang menurun dengan cepat.

Selain keluhan-keluhan tersebut, masih banyak keluhan (yang sebenarnya tidak spesifik) yang dihubungkan dengan penyakit kencing manis. Keluhan-keluhan itu misalnya sering bisulan, gatal-gatal pada kulit dan kemaluan, keputihan, cepat lelah, sering mengantuk, kesemutan, dan lain-lain. Gejala-gejala ini memang berhubungan dengan penyakit kencing manis yang diderita.

Ada orang yang memiliki faktor risiko tinggi untuk menderita DM, artinya dia mempunyai berbagai kondisi yang menempatkannya pada kemungkinan yang lebih besar untuk menderita kencing manis. Faktor-faktor risiko tersebut misalnya:
  1. Usia lebih dari 45 tahun
  2. Riwayat keluarga yang menderita kencing manis
  3. Kegemukan
  4. Darah tinggi
  5. DM pada kehamilan
  6. Pernah melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg
  7. Pernah mengalami kadar gula yang meningkat dan digolongkan dalam Tolerasi Glukosa Terganggu (TGT)
  8. Kadar lemak darah yang buruk
Prinsip pengelolaan kencing manis adalah:
  1. Edukasi kepada penderita, keluarga dan masyarakat
  2. Diet (nutrisi) yang sesuai dengan kebutuhan penderita
  3. Olahraga
  4. Obat-obat yang berkhasiat menurunkan kadar gula darah (bila perlu)
Jika kita lihat pada prinsip-prinsip pengelolaan di atas, dapat kita mengerti bahwa obat sebenarnya bukan menjadi hal yang utama. Perubahan gaya hidup adalah faktor yang sesungguhnya sangat menentukan keberhasilan pengelolaan DM.

Faktor nutrisi adalah faktor yang tidak bisa ditinggalkan. Pada sebagian besar kasus, pengelolaan nutrisi yang baik mampu untuk menjaga kadar gula darah pasien dalam tingkat yang cukup baik. Pada kasus yang berat pun, nutrisi adalah faktor utama yang perlu diperhitungkan.

Penderita DM dapat mengalami berbagai komplikasi khususnya bagi mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol. Komplikasi tersebut misalnya:
  1. Kebutaan
  2. Gangguan saraf (neuropati)
  3. Gagal ginjal
  4. Komplikasi kehamilan

Diabetes Pada Anak-Anak


Selama ini, diabetes mellitus (DM) identik dengan penyakit keturunan dan hanya menyerang mereka yang telah berusia lanjut. Namun kenyataannya, DM dapat menyerang siapa saja, tak kenal usia maupun status ekonomi. Perubahan gaya hidup adalah salah satu faktor yang menyebabkan tingginya risiko DM saat ini.

Diabetes terdiri dari dua jenis, yaitu diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe 1) dan diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe 2). Seseorang dikatakan menderita DM 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus), jika tubuhnya memerlukan pasokan insulin dari luar sepenuhnya karena sel-sel pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin. DM tipe 1 disebabkan oleh faktor genetis dan juga faktor pencetus lainnya. DM tipe 1 muncul tiba-tiba pada masa anak-anak (di bawah usia 20 tahun), dengan gejala berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, mudah lelah, sering buang air kecil, dan sering merasa lapar atau haus.

Sedangkan DM tipe 2, disebut juga Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus, terjadi jika pasokan insulin di pankreas tidak mencukupi sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan pengiriman glukosa ke seluruh sel tubuh, namun penderitanya tidak tergantung speenuhnya pada pasokan insulin dari luar. Sekitar 90% kasus diabetes adalah DM tipe 2. Umumnya DM tipe 2 tidak disertai dengan gejala yang spesifik sehingga banyak penderita yang tidak menyadarinya. Selama ini, banyak yang menganggap bahwa DM tipe 2 hanya diderita oleh mereka yang berusia lanjut, padahal kini terbukti DM tipe 2 dapat menyerang kalangan remaja, bahkan anak-anak.

Berat badan berlebih dan perubahan gaya hidup memang menjadi faktor penyebab terjadinya DM. Penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima penderita DM tipe 2 ternyata mengalami obesitas. Perlu diketahui, sekitar 80% remaja yang obesitas cenderung akan menjadi dewasa yang obesitas pula. Sedangkan pada anak-anak yang menderita obesitas, sekitar 30-40% nya akan menjadi orang dewasa yang juga obesitas, akibatnya diabetes pun akan semakin mudah menyerang.

Berikut ini, beberapa saran agar anak-anak terhindar dari obesitas yang bisa menyebabkan diabetes:
  1. Menetapkan menu 4 sehat 5 sempurna dengan pilihan menu bervariasi agar si anak tidak bosan
  2. Memberikan bekal sekolah yang sehat pada anak
  3. Memberi pengetahun nutrisi pada anak (seperti fast food) sehingga mereka mau menghindari makanan tersebut
  4. Mengajarkan olahraga secara rutin
  5. Menyediakan camilan yang bergizi
  6. Membiasakan pola makan yang teratur, yaitu tiga kali makan besar (pagi, siang, dan malam) serta makan kecil atau camilan di antara waktu makan tersebut.

Hemofilia? Apa dan Bagaimana...


Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang diturunkan melalui kromosom X. Karena itu, penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria karena mereka hanya mempunyai kromosom X, sedangkan wanita umumnya menjadi pembawa sifat saja (carrier). Namun, wanita juga bisa menderita hemofilia jika mendapatkan kromosom X dari ayah hemofilia dan ibu pembawa carrier.

Penyakit hemofilia ditandai oleh perdarahan spontan maupun perdarahan yang sukar berhenti. Selain perdarahan yang tidak berhenti karena luka, penderita hemofilia juga bisa mengalami perdarahan spontan di bagian otot maupun sendi siku.

Pada orang normal, ketika perdarahan terjadi maka pembuluh darah akan mengecil dan keping-keping darah (trombosit) akan menutupi luka pada pembuluh. Pada saat yang sama, trombosit tersebut bekerja membuat anyaman (benang-benang fibrin) untuk menutup luka agar darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh. Pada penderita hemofilia, proses tersebut tidak berlangsung dengan sempurna. Kurangnya jumlah faktor pembeku darah menyebabkan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna sehingga darah terus mengalir keluar dari pembuluh yang dapat berakibat berbahaya. Perdarahan di bagian dalam dapat mengganggu fungsi sendi yakni mengakibatkan otot sendi menjadi kaku dan lumpuh, bahkan kalau perdarahan berlanjut dapat mengakibatkan kematian pada usia dini.

Hemofilia terbagi atas dua jenis, yaitu hemofilia A dan hemofilia B. Hemofilia A disebabkan oleh kekurangan Faktor VIII dalam darah, sedangkan hemofilia B disebabkan oleh kekurangan Faktor IX. Tingkat normal Faktor VIII dan Faktor IX adalah 50-200%. Sedangkan pada orang sehat, nilai rata-rata kedua faktor pembeku darah itu adalah 100%. Pada penderita hemofilia berat, kadar Faktor VIII atau Faktor IX di dalam darah kurang dari 1%. Untuk hemofilia sedang, hanya terdapat 1-5%. Pada hemofilia ringan terdapat sekitar 6-30%.

Pengobatan hemofilia adalah dengan pemberian Faktor VIII terhadap penderita hemofilia A dan Faktor IX pada hemofilia B. Selain obat suntik, alternatif lain untuk menanggulangi hemofilia adalah pemberian transfusi secara rutin untuk penderita hemofilia A dan plasma beku segar untuk penderita hemofilia B. Obat maupun transfusi harus diberikan secara rutin setiap 7-10 hari sekali dan ini dilakukan seumur hidup.

Hepatitis, Bisakah Disembuhkan?


Menurut seorang pakar Hepatitis, sebenarnya Hepatitis tidak mengerikan, asal kita tahu cara pencegahannya. Yakni dengan meningkatkan kesehatan lingkungan dan kebersihan perorangan, mencegah perilaku seksual yang berisiko tinggi, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Untuk Hepatitis A misalnya, penderita bisa sembuh total dari penyakitnya, meski tak tertutup kemungkinan ia bisa mendapat serangan akut virus Hepatitis B (VHB) atau virus Hepatitis C (VHC).

Demikian halnya dengan Hepatitis B, penyakit ini belum tentu akan menjadi kronik bila pengidapnya orang sehat. Jadi bila virus yang masuk ke tubuh penderita tidak menunjukkan gejala klinik penyakit, dan ditunjang dengan pemberian obat anti virus atau vaksinasi, ada harapan penderita bisa sembuh.

Hepatitis Kronik

Berbagai laporan lain menyebutkan bahwa Hepatitis B dan C termasuk Hepatitis kronik (menahun) dan bisa berkembang menjadi sirosis atau kanker hati. Hingga kini belum ada vaksin yang bisa melawan virus yang bermutasinya sangat cepat ini. Perjalanan menjadi kronik tersebut memakan waktu 20-30 tahun.

Hal itu diperkuat oleh laporan yang menyebutkan jika infeksi Hepatitis B terjadi pada masa bayi, maka dalam kurun waktu tersebut, 95% akan menjadi kronik. Itu sebabnya, bayi yang baru lahir dianjurkan mendapat vaksinasi Hepatitis. Menurut seorang pakar Hepatitis, dengan vaksinasi Hepatitis B, bayi-bayi tersebut dapat terlindungi dari virus Hepatitis B sampai usia lima tahun.

Sejauh ini sebagian besar kematian penderita VHB dan VHC disebabkan karena pecahnya esofagus yang mengalami varises, hipertensi, sirosis hati, dan karsinoma sel hati.

Siapakah yang Berisiko Tinggi?

Faktor-faktor yang menjadi penyebab penularan virus Hepatitis sudah jelas. Jadi yang berisiko tertular hepatitis pun sudah pasti orang-orang yang berada dalam lingkaran itu. Misalnya dokter, mereka yang bekerja di unit pelayanan kesehatan, pemungut sampah, pelaku seks dengan pasangan sejenis atau pasangan lain yang menderita penyakit yang sama, penyalahgunaan obat dan jarum suntik, penderita hemofilia dan penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah, mereka yang menjalani transfusi darah dan pemakai tato.

Baca Juga :

Herpes Pada Kornea


Herpes juga dapat terjadi pada kornea. Herpes ini dinamakan herpes simpleks. Herpes simpleks ini merupakan suatu kondisi infeksi yang disebabkan oleh virus herpes simpleks, dan didiagnosa berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Dari penelitian, diketahui bahwa 50% penderita mengalami infeksi virus yang terjadi secara berulang-ulang (kambuh) yang terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa tahun setelah infeksi pertama.

Pada stadium awal, infeksi ini menyerupai infeksi bakteri yang ringan karena gejala yang timbul bersifat ringan (seperti mata terasa nyeri, berair, merah dan peka terhadap cahaya). Pembengkakan yang terjadi pada kornea menyebabkan penglihatan menjadi kabur. Infeksi seringkali hanya menyebabkan perubahan yang ringan pada kornea dan akan menghilang dengan sendirinya. Namun terkadang virus menembus lebih dalam dan menghancurkan permukaan kornea.

Jika infeksi terjadi secara berulang-ulang, kemungkinan besar terdapat ulserasi (pembentukan luka terbuka), pembentukan jaringan parut yang bersifat menetap, serta hilangnya rasa ketika mata disentuh. Virus herpes simpleks juga dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan pembuluh darah dan gangguan penglihatan, hingga kebutaan.

Bagi para penderita herpes simpleks, diberikan obat-obatan seperti obat anti virus seperti trifluridin, vidarabin atau idoxuridine, yang biasanya berbentuk salep atau larutan pencuci mata. Dan untuk mempercepat penyembuhan, dokter spesialis mata menggunakan bantuan kapas untuk mengangkat sel-sel yang mati dan rusak dari permukaan kornea.

Cara Menyiapkan Susu Formula


Karena alasan tertentu, Ibu tidak dapat memberikan ASI kepada si kecil. Oleh karena itu, sebagai penggantinya digunakan susu formula. Beberapa cara yang perlu diketahui dalam menyiapkan susu formula untuk si kecil, terutama untuk ibu-ibu muda yang untuk pertama kalinya mempunyai si kecil:
  1. Awali dengan mencuci tangan sebelum ibu membuat susu untuk si kecil.
  2. Kemudian masukkan air hangat ke dalam botol susu. Jangan gunakan air mendidih atau air dingin.
  3. Masukkan susu ke dalam botol yang telah berisi air hangat sesuai takaran yang dianjurkan pada petunjuk pemakaian.
  4. Pasang cincin dan tutup botol, dan putar erat-erat hingga tertutup rapat.
  5. Buka tutup botol lalu pasang dot susu.
  6. Jangan sentuh ujung dot dengan jari. Lalu pasang cincin botol dan putar hingga rapat.
  7. Periksa suhu susu dengan meneteskannya di punggung tangan. Susu harus hangat, bukan panas.
  8. Buatlah susu untuk satu kali pemakaian saja. Bila masih tersisa, boleh disimpan di suhu kamar/lemari es, sebaiknya tidak lebih dari 1 jam.
Usia Jumlah Sendok Jumlah Air Hangat Frekuensi
  1. 0 - 7 hari 2 60 ml 8 kali
  2. 7 - 14 hari 3 90 ml 7 kali
  3. 1/2 - 1 bulan 4 120 ml 6 kali
  4. 1 - 2 bulan 5 150 ml 6 kali
  5. 2 - 3 bulan 6 180 ml 5 kali
  6. 3 bulan 7 210 ml 5 kali
Ukuran sendok takar= 4,4 g ; 1 liter = 135 g susu bubuk + 900 ml air

Gunakan hanya sendok takar yang disertakan dalam kemasan. Jika susu bubuk yang dicampurkan lebih banyak atau lebih sedikit yang dianjurkan, bisa terjadi dehidrasi atau menyebabkan bayi kurang gizi. Jangan mengubah komposisi air dan susu bubuk yang diberikan tanpa konsultasi dahulu pada dokter. Siapkan hanya satu botol susu setiap kalinya. Ikuti instruksi penyajian setepat mungkin.

Rentan Terkena Jamur Kulit Jika Sering Berenang?


Penyakit kulit tidak dapat disembunyikan dan tidak mengenal usia. Oleh karena itu dewasa maupun anak-anak dapat terkena penyakit ini. Penyakit kulit dapat menyebabkan orang menjadi rendah diri.

Penyakit jamur dapat ditularkan melalui air. Namun kemungkinan tertular dapat diminimalkan dengan membilas tubuh dengan air setiap kali setelah berenang. Selain itu, penyakit kulit yang dipicu oleh berenang adalah panu (bercak-bercak putih pada kulit). Panu tergolong ke dalam kelompok eksim. Penelitian menunjukkan bahwa penyakit panu ini sering kali terjadi pada orang atopik (seseorang dengan kulit yang sensitif). Hal ini dapat disebabkan oleh kontak klorin dengan klorin, atau pajanan sinar matahari yang berlebihan.

Dengan membilas tubuh setelah berenang, virus dan kuman yang kemungkinan masih menempel di tubuh akan hilang terbawa air bilasan. Infeksi pada kulit dapat disebabkan oleh jamur (kapang) dan kandida (ragi). Infeksi yang disebabkan oleh jamur dinamakan martomikosis, sedangkan infeksi yang disebabkan oleh kandida disebut sebagai kandidosis. Penyakit kulit yang relatif banyak dijumpai pada bayi yaitu kandidosis, sedangkan tinea atau panu sering dijumpai pada anak yang lebih besar. Penularan penyakit tersebut dapat diminimalkan penularannya selama dapat mengurangi kelembaban yang berlebihan, khususnya pada anak dan bayi yang gemuk. Caranya badan anak harus dilap hingga kering, bahkan pada lipatan-lipatan tubuhnya.

Kebanyakan sumber infeksi adalah berasal dari ibu pada saat kelahiran. Pajanan dini akan menimbulkan infeksi di mulut. Sedangkan infeksi pada usia selanjutnyaterjadi karena gangguan keseimbangan flora akibat pengobatan atibiotik ataupun steroid, salah satu zat dalam obat asma yang terlalu berlebihan dan tidak terkontrol.

Adanya anggapan bahwa penyakit kulit hanya terjadi pada kalangan bawah sungguh sangat tidak tepat. Penyakit kulit tidak mengenal golongan ekonomi. Perbandingan kelasnya merata. Untuk meminimalkan terinfeksi penyakit kulit, perhatikanlah untuk selalu menjaga kulit agar tetap higienis. Semua faktor yang memudahkan infeksi jamur harus segera ditangani. Anda juga harus memilih bahan pakaian yang menyerap keringat. Jangan konsumsi antibiotik secara berlebihan.